
Antik! Ini Wisata Tertua di Yogyakarta yang Bisa Dikunjungi Saat Liburan
Menghabiskan waktu di Yogyakarta sebagai mahasiswa atau pekerja muda sering kali membuat kamu terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Padahal, kota ini menyimpan lapisan sejarah yang sangat dalam, jauh sebelum kafe kekinian dan pusat perbelanjaan menjamur. Mengunjungi tempat wisata tertua bukan sekadar melihat bangunan usang, melainkan cara untuk memahami karakter kota tempat kamu tinggal sekarang. Kamu bisa menemukan sudut-sudut estetik yang tidak ditemukan di mall, sekaligus belajar bagaimana kota ini bertahan selama ratusan tahun.
Kotagede: Menelusuri Jejak Awal Mataram Islam di Abad ke-16
Jika kamu mencari titik nol sejarah Yogyakarta yang sesungguhnya, Kotagede adalah jawabannya. Kawasan ini merupakan ibu kota pertama Kesultanan Mataram Islam yang didirikan pada tahun 1588. Berbeda dengan pusat kota yang ramai dengan kendaraan, gang-gang sempit di Kotagede menawarkan suasana yang sangat tenang dan "antik" secara harfiah. Kamu bisa mulai dengan mengunjungi Masjid Gedhe Mataram, masjid tertua di Jogja yang dibangun pada masa Panembahan Senopati.
Di sini, kamu bisa melihat perpaduan unik antara arsitektur Islam dan Hindu, seperti gapura berbentuk candi di gerbang masuk masjid. Jika ingin masuk ke area makam raja-raja Mataram, ada aturan ketat yang harus kamu ikuti: dilarang membawa kamera dan wajib mengenakan pakaian adat (peranakan) yang bisa disewa di tempat dengan biaya sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000. Untuk kamu yang suka fotografi, area "Between Two Gates" di Kampung Wisata Purbayan adalah spot wajib. Kamu akan menemukan deretan rumah tradisional Jawa dengan pintu kayu besar yang saling berhadapan, memberikan kesan lorong waktu yang sangat kental.
Jangan lupa mampir ke sentra kerajinan perak yang sudah ada sejak zaman kolonial. Beberapa bengkel perak di sepanjang Jalan Kemasan masih menggunakan teknik manual. Kamu bisa melihat langsung proses pembuatan perhiasan dari lelehan perak hingga menjadi ukiran rumit. Ini adalah kegiatan liburan yang murah namun sangat berkesan bagi kamu yang baru pertama kali mengeksplor sisi tradisional Jogja.
Keraton Yogyakarta dan Tamansari: Kemegahan Abad ke-18
Keraton Yogyakarta (berdiri 1755) dan Tamansari (1758) adalah dua lokasi yang tidak boleh dilewatkan jika kamu ingin melihat kejayaan masa lalu. Keraton bukan hanya museum, tapi pusat kebudayaan yang masih aktif. Datanglah sebelum jam 10 pagi agar kamu bisa menyaksikan pertunjukan seni yang berbeda setiap harinya di Bangsal Sri Manganti, mulai dari tari tradisional, pembacaan macapat, hingga wayang golek. Tiket masuknya sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa, sekitar Rp15.000 saja.
Sekitar 1 kilometer ke arah barat dari Keraton, terdapat Tamansari yang dulunya merupakan tempat pemandian dan peristirahatan sultan. Area yang paling ikonik adalah Umbul Pasiraman, kolam biru jernih yang dikelilingi bangunan putih megah. Namun, bagian paling menarik justru berada di bawah tanah, yaitu Sumur Gumuling. Ini adalah masjid bawah tanah berbentuk melingkar dengan tangga yang saling silang di tengahnya. Arsitekturnya sangat akustik; suara imam di bagian tengah bisa terdengar jelas ke seluruh ruangan tanpa pengeras suara.
Satu tips praktis: hindari berkunjung ke Tamansari saat akhir pekan siang hari jika tidak ingin mengantre panjang untuk sekadar berfoto di Sumur Gumuling. Datanglah tepat saat gerbang dibuka pada pukul 09.00 WIB. Selain itu, gunakanlah jasa pemandu lokal yang biasanya berdiri di pintu masuk. Mereka tidak hanya membantu mengarahkan jalan di labirin gang pemukiman warga, tapi juga akan menceritakan detail sejarah yang tidak tertulis di papan informasi.
Pasar Beringharjo: Pusat Ekonomi Tertua Sejak Tahun 1758
Banyak orang mengira Malioboro hanya tempat jalan-jalan, padahal jantung ekonominya ada di Pasar Beringharjo. Pasar ini didirikan tak lama setelah Keraton Yogyakarta berdiri dan menjadi pasar tertua di wilayah ini. Bagi kamu yang sedang mencari kebutuhan kos atau ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman, Beringharjo adalah tempat terbaik untuk mendapatkan harga miring asalkan kamu berani menawar.
Pasar ini terbagi menjadi beberapa zona. Lantai satu bagian barat adalah pusat batik terbesar. Kamu bisa mendapatkan daster atau kemeja batik mulai dari harga Rp35.000. Naik ke lantai dua dan tiga, kamu akan menemukan zona barang antik dan pakaian bekas (thrifting) yang sangat disukai anak muda Jogja. Di sini, kamu bisa menemukan kaset pita lama, kamera analog, hingga dekorasi kamar yang unik dengan harga yang jauh lebih murah daripada di toko hobi modern.
Untuk urusan perut, Beringharjo adalah surga kuliner legendaris. Di pintu masuk utama, kamu akan disambut deretan penjual Pecel Senggol. Dengan Rp10.000 - Rp15.000, kamu sudah bisa mendapatkan satu porsi pecel lengkap dengan sate kolang-kaling atau baceman. Jika ingin yang hangat, carilah Es Dawet Mbah Hari yang sudah berjualan sejak tahun 1960-an. Kesederhanaan inilah yang membuat liburan di tempat tertua di Jogja terasa lebih bermakna daripada sekadar nongkrong di kafe mahal.
Langkah Praktis Menjelajahi Wisata Tua di Jogja
Agar perjalanan kamu efisien dan tidak menguras tenaga, berikut adalah langkah praktis yang bisa kamu ikuti untuk rute satu hari wisata sejarah:
- Gunakan Transportasi Umum: Jika kamu tidak membawa kendaraan pribadi, manfaatkan bus Trans Jogja. Jalur 1A dan 2A biasanya melewati area Malioboro dan dekat dengan Keraton. Tarifnya flat hanya Rp3.600 per perjalanan.
- Rute Berjalan Kaki: Mulailah dari Keraton pada pukul 09.00 WIB, lalu berjalan kaki menuju Tamansari melalui Kampung Cyber. Setelah dari Tamansari, kamu bisa naik becak motor atau berjalan kaki 15 menit menuju Pasar Beringharjo di ujung selatan Malioboro.
- Pakaian dan Alas Kaki: Karena lokasi-lokasi ini didominasi oleh area terbuka dan jalanan aspal, gunakan sepatu kets yang nyaman. Hindari memakai sandal jepit jika berniat masuk ke area makam raja-raja agar tetap sopan.
- Waktu Terbaik: Selasa Wage dan Jumat Kliwon sering kali ada upacara atau kegiatan budaya tambahan di sekitar Keraton. Namun, perlu diingat bahwa pada Selasa Wage, PKL di Malioboro biasanya libur (reresik), sehingga suasana trotoar lebih bersih dan luas untuk berjalan kaki.
- Budgeting: Siapkan uang tunai kecil (Rp2.000 - Rp5.000) untuk parkir atau membayar toilet umum di area pasar dan keraton, karena sebagian besar tempat bersejarah belum sepenuhnya mendukung pembayaran nontunai untuk biaya-biaya kecil.
Menjelajahi sisi antik Yogyakarta akan memberikan perspektif baru bagi kamu yang sedang merantau di sini. Kamu jadi tahu bahwa di balik modernitas kota ini, ada akar budaya yang sangat kuat dan tetap dijaga oleh masyarakatnya. Selamat berlibur dan menikmati suasana Jogja tempo dulu!
Tertarik Ngekost di Dzawani?
Hubungi kami sekarang dan dapatkan info kamar terbaru.


